|
|
Berbagi Dalam Keterbatasan |
Pada saat berusia 19 tahun, Sugeng Siswoyudono
kehilangan satu kaki akibat kecelakaan lalu lintas. Di usia yang sama, Muhamad
Junaidi mengalami kelumpuhan kedua kakinya setelah sakit panas. Bagi sebagian
orang, mungkin inilah ’akhir kehidupan’. Tapi tidak bagi Sugeng dan Muhamad
Junaidi.
Mereka mendobrak keterbatasan akibat musibah menjadi sebuah
spirit, yang tidak hanya berguna bagi diri sendiri, tapi juga untuk orang lain.
Mereka bahkan mampu membantu sesama penyandang cacat untuk hidup mandiri.
Adalah Sugeng Siswoyudono yang harus menghapus cita-citanya
menjadi tentara dan ia harus melanjutkan hidup dengan bantuan kaki palsu.
Karena sering gonta-ganti kaki palsu, akhirnya Sugeng belajar
sendiri untuk membuat kaki palsu. Sugeng yang selalu kreatif sering membuat
terobosan-terobosan baru dalam pembuatan kaki palsu. Kini ia sudah memiliki
sejumlah anak buah untuk membantunya mengerjakan kaki palsu pesanan.
Pada perjalanannya ia sering membantu orang-orang yang juga
kehilangan kaki, akibat kecelakaan. Bantuan ia berikan antara lain, membuatkan
kaki palsu bagi mereka dan mengajarkannya untuk bisa membuat sendiri.
Tak hanya itu, Sugeng juga sering membantu orang-orang yang
frustrasi karena kehilangan kaki, memberinya motivasi untuk bangkit dan
bersemangat kembali.
Namun, Sugeng memiliki cara yang unik dalam memberikan
motivasi. ”Ada pasien yang baru kehilangan kedua
kakinya, saya bilang saja, kamu sudah gak berguna pantesnya dibuang saja ke
kali,” kata Sugeng yang tampil di Kick Andy dengan gaya kocaknya.
Tentu saja, cercaan ini tak dimaksudkan Sugeng untuk
menghina. Menurutnya cara yang ia lakukan adalah ibarat sebuah tempaan, agar
para penyandang cacat dadakan itu menjadi tahan banting.
Hal itu diakui oleh Ragil, seorang pemuda yang kehilangan
satu kakinnya tahun lalu. ”Pertama kali bertemu Mas Sugeng, saya ingin sekali
menonjoknya. Tapi sekarang saya berterimakasih,” katanya. Selain memberi
motivasi, Sugeng juga telah membuatkan kaki palsu bagi Ragil.
Perlu diketahui juga, bahwa untuk semua servis yang ia
berikan pada pasien-pasiennya, Sugeng tidak mematok bayaran bahkan lebih sering
tanpa bayaran alias gratis.
Usaha bengkel kaki palsu memang bukan sesuatu yang komersil
bagi Sugeng, tak heran jika kehidupan ekonomi Sugeng pun tampak biasa-biasa
saja. Untuk kehidupan sehari-hari, Sugeng berjualan susu sapi. Bukan dari sapi
miliknya, tapi ia mengambil secara kulakan dari luar kota , dan kemudian menjualnya lagi secara
eceran. Tiap hari, Sugeng mengendarai motor untuk mengantarkan susu, yang di
pesan pelanggannya.
Sementara itu dari Solo, Kick Andy mengundang Muhamad Junaidi
alias Joned yang kedua kakinya telah lumpuh sejak sembilan tahun lalu. Ia berhasil
melewati masa frustasi dengan kemudian memutuskan untuk bangkit dengan belajar
menjahit di Rehabilitation Center Solo.
Setelah dua tahun belajar, ia pun merintis menjadi penjahit
dengan modal berupa dua mesin pinjaman milik kepala desa. Ia selalu mengutamakan
pelayanan yang baik pada pelanggannya, hingga usaha jahit yang ia beri nama
”Joned Taylor ”
itu kini berkembang.
Saat usahanya maju, ia teringat masih banyak teman senasib
yang pasti sangat sulit menemukan lapangan kerja. Maklum, menurutnya, diskriminasi
di dunia kerja masih terjadi pada orang-orang yang memiliki keterbatasan alias
cacat.
Junaidi kemudian menyisihkan uang rupiah demi rupiah dari
hasil usaha menjahitnya. Setelah terkumpul jumlah yang cukup, ia pun
menghubungi pihak Rehabilitation Center Solo, dan mengajukan tawaran untuk
melakukan pelatihan menjahit pada penyandang cacat di sana . ”Soal benang, dan bahan jahitan saya
yang tanggung,” tandasnya.
Alhasil Joned pun memberi pelatihan pada beberapa penyandang
cacat. Maklum, dana yang ia kumpulkan tak banyak sehingga pada kali pertama,
hanya segelintir orang saja yang ia latih. Namun, upaya membantu saudara
senasibnya itu, terus dilakukannya sampai sekarang. Dan kini puluhan orang yang
ia bantu sudah bisa berusaha secara mandiri. ”Saya ingin para penyandang cacat
hidup mandiri dan tidak jadi peminta-minta di lampu merah,” katanya.
Inilah, sebuah bukti bahwa dalam keterbatasan sekalipun,
masih ada cara untuk tetap bisa berbagi.
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar