|
|
Bertaruh Nyawa di Medan Perang |
Satu peluru menghantam dadanya. Peluru lain menyerempet
pipinya. Risiko itu harus diterima Hendro Subroto ketika meliput konflik yang
terjadi di Timor Timur. Baju yang berlubang bekas peluru dan kamera tua yang
dia pakai sewaktu meliput kini menjadi saksi di museum pers Solo.
Sebagai wartawan peliput perang Hendro dianggap yang paling
senior. Hasil liputannya juga sungguh beragam. Dari peristiwa terbunuhnya Kahar
Muzakar di Sulawesi Selatan, penggalian para pahlawan revolusi di Lubang Buaya,
perang Vietnam , perang
Kamboja, perang Afghanistan
sampai perang Irak.
''Setelah melihat sendiri rekaman kematian Kahar Muzakar,
barulah Bung Karno percaya Kahar sudah benar-benar tewas,'' ungkap Hendro. Bisa
dipahami jika Bung Karno perlu meyakini bahwa 'tokoh pemberontak itu sudah
tewas karena selama ini rumor soal kematian Kahar sudah terlalu sering
dihembus-hembuskan. Pada kenyataannya Kahar selalu masih hidup.
Lain lagi pengalaman Rien Kuntari, wartawati Kompas, di
Rwanda. Saat meliput konflik antar-etnis di Afrika itu, dia harus menerima
kenyataan orang-orang yang semalam tidur di dekatnya, pagi-pagi sudah jadi
mayat. ''Saya melihat mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. Ada ibu yang
sudah menjadi mayat sementara bayi dalam pelukannya masih hidup dan tetap
menyusu.''
Kengerian luar biasa yang dilihatnya dalam perang saudara
itu, membuat Tien trauma untuk jangka panjang. Bahkan ketika film Hotel Rwanda
yang menceritakan tragedi umat manusia itu diputar di Indonesia, Tien mengaku
tak sanggup menontonnya. ''Saya tidak berani. Mengerikan.''
Perempuan lain yang juga kerap meliput perang adalah Yuli
Ismartono, wartawan Tempo. Yuli pernah ikut dalam pasukan pemberontak Macan
Tamil di Sri Lanka. ''Saya ikut mereka berpindah-pindah di dalam hutan,'' tutur
Yuli. Kondisi yang sangat berbahaya karena pasukan pemerintah Sri Langka kerap
menggempur tempat persembunyian Macan Tamil.
Yuli juga pernah meliput Perang Kamboja dan perang Irak.
bahkan dia pernah masuk ke sarang Kun Sha, raja Opium di perbatasan Thailand,
Kamboja, dan Vietnam. Untuk tugas-tugas jurnalistik seperti itu, istri
warganegara Amerika ini harus siap menghadapi kondisi apa pun. Termasuk makan
daging ular dan cicak. ''Cicaknya dibakar.''
Sementara Merdy Sofyansyah, wartawan SCTV yang meliput
kejatuhan Sadam di Irak, merupakan saksi mata yang melihat pertama kali adanya
tawanan bawah tanah. ''Tadinya penjara bawah tanah itu dianggap hanya rumor.
Tapi saat saya di sana, tiba-tiba ada orang berteriak-teriak sambil menunjuk
sebuah lubang. Belakangan ternyata itu penjara bawah tanah. Di penjara itu
ditemukan orang-orang yang disekap pada masa kekuasaan Sadam Husein,'' ujar
Merdy.
Sedangkan Romy Fibri yang waktu itu mendapat tugas dari Tempo
dan Satrio Arismunandar yang ditugasi Kompas, punya pengalaman yang tidak kalah
unik. Mereka menceritakannya dengan jenaka di Kick Andy.
Di ujung acara, Meutya Hafid dan Budiyanto dari Metro TV
mengungkapkan pengalaman mereka disekap oleh pasukan Mujahidin ketika meliput
konflik pasca kejatuhan Sadam. Selama 168 jam atau satu minggu mereka harus
hidup di sebuah goa di tengah padang pasir.
Mereka diculik karena dituduh mata-mata musuh. Kelompok
penyandera baru percaya reporter dan camera person Metro TV itu benar-benar
wartawan setelah Presiden SBY melalui siaran TV yang disiarkan secara luas
meminta agar mereka dibebaskan.
Pengalaman itu yang kemudian dituangkan Meutya dalam sebuah
buku berjudul '168 Jam dalam Penyanderaan'. ''Sampai sekarang peristiwa itu
masih membuat saya trauma. Tapi, di lain sisi, hari-hari dalam penyekapan
membuat saya dapat merenungi apa arti kehidupan,'' ujar Meutya ketika tampil di
Kick Andy.
Masing-masing wartawan yang meliput perang punya kiat dan pantangan
dalam meliput perang. Hendro Subroto, misalnya, mengaku waktu di Timor Timur
dia tertembak karena melanggar pantangan yang selama ini diyakininya. ''Waktu
di Dili saya lihat ada satu lukisan kuno di museum. Saya berniat mencurinya
setelah usai meliput perang. Ternyata saya tertembak. Sejak itu saya tidak
berani lagi berpikir macam-macam kalau meliput perang,'' ujarnya sambil
tertawa.
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar