|
|
Dengan Hati Melihat Dunia |
Apa jadinya kalau tunanetra nge-blog? Ternyata tidak
jauh berbeda dengan blog-blog kebanyakan yang notabene dibuat oleh orang
’awas’. Coba saja tengok ramaditya.com, blog milik seorang tunanetra bernama
Ramaditya. Di dalamnya, kita bakal disuguhi cerita-cerita yang ditulis Rama
secara deskriptif dan menarik.
Asyiknya lagi, para pengunjung blog juga bisa mendownload
musik-musik game karya Rama secara gratis. ”Saya memang ingin memasyarakatkan
musik game dan memusik-gamekan masyarakat,” ujar Pria yang berprofesi sebagai
sound engineer lepas untuk perusahaan game Nintendo dan juga sebagai jurnalis
ini.
Karibnya Rama dengan perangkat teknologi memang mengagumkan.
Meski memiliki kendala penglihatan, namun tidak menghalanginya untuk berkreasi
melalui komputer. Bahkan Rama sempat mempertontonkan kebolehannya mengaransir
musik game dengan suling-nya yang bernama Tiara dan kemudian diolahnya melalui
laptop kecil kesayangannya bernama Via. Sontak alunan musik karya Rama ini
mengundang applause para penonton yang hadir di studio malam itu.
Ramaditya merupakan salah satu narasumber K!ck Andy pada
episode DENGAN HATI MELIHAT DUNIA. Dalam episode kali ini, Kick Andy memang
berupaya menghadirkan rekan-rekan tunanetra yang mengenyampingkan segala keterbatasannya
dan berhasil membuktikan eksistensi mereka melalui kreatifitas.
Seperti hal-nya yang dilakukan oleh Irawan Mulyanto, Dimas,
Aries dan Rafiq. Ke-empat pria ini adalah orang-orang dibalik website
Kartunet.com. Kartunet sendiri merupakan akronim dari Karya Tunanetra yang
memang menyajikan karya-karya dari para tunanetra seperti puisi, cerpen, esei
maupun cerita-cerita lucu. Irawan yang biasa disapa Iwa ini, mengatakan bahwa
dirinya dan teman-teman memiliki mimpi bahwa satu hari nanti web karya tunanetra
ini bisa menjadi sumber pendapatan bagi tunanetra. Seperti adanya pengiklan
ataupun menjadi sebuah radio on line. ” Sekarang ini kami masih membiayai
sendiri dengan cara urunan,” jelas Iwa yang sehari-hari juga bekerja sebagai
operator telepon di Metro TV.
Dalam episode kali ini juga diangkat seputar program GERAKAN
SERIBU BUKU UNTUK TUNANETRA. Buku merupakan jendela dunia. Banyak hal dapat
diperoleh lewat buku. Namun bagaimana dengan teman-teman para tunanetra?
Sudahkah kebutuhan mereka akan buku berhurup braille, terpenuhi dengan baik?
Jawabannya adalah belum! Menyadari begitu pesatnya perkembangan buku dewasa
ini, namun sedikit sekali buku yang bisa dibaca oleh kalangan tunanetra, maka
Yayasan Mitra Netra pun memprakarsai lahirnya GERAKAN SERIBU BUKU UNTUK
TUNANETRA tersebut.
Menurut humas Yayasan Mitra Netra, Aria Indrawati, program
yang sudah berlangsung selama dua tahun terakhir ini memang bertujuan mengajak
masyarakat berpartisipasi dalam pengadaan buku bagi para tunanetra. Khususnya
bagi para penerbit dan penulis buku diharapkan bersedia memberikan ijin dengan
meminjamkan soft file buku-bukunya untuk diterbitkan dalam versi braille. Meski
belum bisa dibilang banyak, namun ada beberapa kalangan penulis maupun penerbit
yang telah terpanggil untuk berkomitmen meminjamkan soft file bukunya untuk
di-braillekan ataupun dijadikan talking book. Salah satu-nya adalah motivator
Andrie Wongso. Tak ketinggalan, presenter Metro TV, Meuthia Hafidz, juga
berkesempatan mengijinkan bukunya yang berjudul 168 Jam Dalam Sandera untuk
di-braille-kan.
Dedikasi sepenuhnya terhadap program SERIBU BUKU UNTUK
TUNANETRA ini juga dilakukan oleh Irwan Dwi Kustanto melalui antologi Angin Pun
Berbisik. Dimana hasil penjualan buku kumpulan puisi yang merupakan karya
bersama Irwan yang tunanetra dengan Siti Atmamiah, sang isteri, dan putri
tercinta, Zeffa Yurihana ini nantinya akan digunakan untuk membiayai program
yang turut ia cetuskan tersebut. Selama ini Irwan memang dikenal banyak
melahirkan ide brilian bagi kemajuan kaum tunanetra. Diantaranya dengan
mengembangkan sistem simbol braile Indonesia serta kamus elektronik untuk
tunanetra.
Tak ketinggalan, episode Kick Andy kali ini juga menyingkap
cerita dari talenta-talenta tunanetra lain seperti Fiersha Hanifah si pemilik
suara emas, serta melihat penampilan anak-anak teater MELDIC (Melihat Dengan
Ilmu dan Cinta). Yang pasti, keterbatasan tidak menghalangi mereka untuk terus
berprestasi dan berkreasi. Meski mata mereka tak mampu melihat, namun mereka
masih mempunyai hati yang menjadi jendela untuk melihat dan mengubah dunia.
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar