|
|
Dengan Raket Membela Negara |
"Di All England 1976 saya benar-benar kalah dari
Rudy Hartono. Saya bukan mengalah," ujar Liem Swie King. Penjelasan Itu
dia lontarkan menjawab pertanyaan Andy Noya tentang kemungkinan waktu itu King
'dipaksa mengalah' untuk memberi peluang bagi Rudy Hartono mencetak rekor juara
All England
tujuh kali.
Dalam usianya yang baru 20 tahun saat itu, semua mata memang
tertuju pada King yang dianggap sebagai anak ajaib yang bakal menggantikan
kejayaan Rudy Hartono. Ramalan banyak orang itu akhirnya terbukti ketika dua
tahun kemudian, pada 1978, masyarakat Indonesia menyambut pahlawan baru dunia
bultangkis ketika Liem Swi King tampil sebagai jauara All England mengalahkan
sang maestro, Rudy Hartono.
Kisah kejayaan bulutangkis Indonesia
pada masa lalu merupakan kenangan manis yang diharapkan dapat memotivasi
pemain-pemain muda untuk kembali merebut dominasi Indonesia di dunia bulutangkis.
Melalui Kick Andy, para kampiun badminton, antara lain Liem Swie King,
Christian Hadinata, Ivana Lie, Hastomo Arby, Hariyanto Arby, Eddy Hartono, Susi
Susanti, dan Alan Budi Kusuma mencoba mengembalikan memori kita pada
tahun-tahun kejayaan bulutangkis Indonesia.
Hastomo Arby, misalnya, mengungkapkan saat-saat menegangkan
ketika di Thomas Cup 1984 tim Indonesia
harus menghadapi tim Cina yang diunggulkan. Moral tim Indonesia sempat
berantakan ketika Liem Swie King sebagai pemain pertama yang diunggulkan
ternyata kalah. Hastomo, sebagai pemain tunggal kedua yang saat itu tidak
diunggulkan, harus memikul beban berat. Apalagi lawannya waktu itu adalah Han
Jian, unggulan utama tim Cina. Maka seluruh tim Indonesia melompat kegirangan
dan kembali bangkit ketika Hastomo Arby di luar dugaan mampu menaklukkan Han
Jian.
Setelah pemain tunggal ketiga Icuk Sugiarto takluk di tangan
Cina, maka satu-satunya angka yang direbut Hastomo Arby di nomor tunggal
sungguh sangat berarti. Sebab dua nomor ganda putra akhirnya disabet Indonesia.
Indonesia unggul 3:2. Hastomo menjadi pahlawan penyelamat. Apa strategi yang
diterapkan Hastomo? "Gak ada. Karena tidak diunggulkan saya main ngawur
aja," ungkap pria asal Kudus ini yang disambut tawa seluruh penonton di
studio.
Sementara Susi Susanti juga menceritakan momen paling penting
dalam sejarah perjalanan hidupnya ketika dia mampu merebut emas di Olimpiade
Barcelona 1992. Waktu itu foto Susi yang berlinang airmata dan sedang mencium
bendera merah putih muncul di halaman satu berbagai media cetak. Begitu juga di
semua televisi adegan tersebut diputar berulang-ulang.
Menarik juga ketika kita diajak mengingat kembali prestasi
keluarga Arby yang diukir oleh Hastomo, Eddy Hartono, dan Hariyanto Arby.
Ketiga kakak beradik ini lahir dari ayah dan ibu yang juga pernah berjaya di
arena bulutangkis pada 1940-an.
Sang kakak, Hastomo, selain jadi pahlawan pada Thomas Cup
1984, juga pernah menyelamatkan muka Indonesia pada Sea Games 1979. Pada waktu
itu Liem Swie King dinyatakan kalah WO karena datang terlambat. Hastomo tampil
dan mengalahkan pemain Thailand untuk tampil sebagai juara. Sedangkan spesialis
ganda Eddy Hartono sudah tak terhitung prestasinya di All England, Thomas Cup,
Indonesia Open sampai Olimpiade Barcelona.
Si bungsu, Hariyanto, yang dijuluki 'Smash 100 Watt' ikut
memberi andil atas kemenangan Indonesia di Thomas Cup 1994, 1996, 1998, dan
2000. Termasuk merebut juara All England 1993 dan 1994.
Sedangkan Ivana Lie lebih menyinggung nasib para pemain
bulutangkis. "Waktu latihan terlalu padat sehingga sekolah jadi
berantakan. Di masa tua banyak yang baru sadar tidak bisa apa-apa selain
bulutangkis."
Pernyataan Ivana Lie diperkuat kenyataan empat pemain ganda Indonesia yang baru saja menyabet juara di World
Championship 2007 di Malaysia .
Mereka mengaku tidak dapat meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi
karena beban latihan yang berat. Markis Kirda, Hendra Setiawan, Nova Widianto,
misalnya, mengaku hanya tamat SMA. Sedangkan Lilyana Natsir bahkan mengaku
pendidikannya mandeg sampai tingkat SD.
Soal prilaku dan mentalitas pemain-pemain muda saat ini yang
dinilai berbeda dengan para seniornya dulu, Christian Hadinata, maestro ganda Indonesia ,
mengaku jamannya memang sudah berbeda. Nah, jika harus memilih pemain yang
berbakat tapi kurang disiplin atau yang tidak punya bakat tapi sangat disiplin?
"Saya pilih yang berbakat walau kurang disiplin," ujar Christian yang
kini menjadi pelatih tim Indonesia .
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar