|
|
FROM ZERO TO HERO |
Keterbatasan dalam bidang ekonomi dan pendidikan, sekali
lagi bukan alasan untuk tidak bisa meraih kesuksesan. Setidaknya kedua hal
tersebut berlaku bagi para tamu Kick Andy episode ini. Berbekal modal seadanya,
namun didukung tekad kuat dan semangat kerja keras pantang menyerah, membuat
mereka mampu menjadi "pahlawan" bagi diri sendiri dan keluarga, juga
bagi orang lain.
Salah satunya adalah Susi Pudjiastuti, potret sukses
pengusaha wanita tanpa jalur pendidikan formal. Merasa sekolah tidak bisa
mengakomodasi keinginannya, Susi Pudjiastuti memilih drop out saat kelas dua
SMA dan bekerja di pelelangan ikan di Pangandaran, Jawa Barat. Pilihan nekadnya
ini, ternyata mampu mengantarkan nasibnya menjadi juragan ekspor ikan beromzet
milyaran rupiah per bulan dan pemilik dari maskapai penerbangan Susi Air dengan
12 pesawat Cessna Grand Caravan, hanya dengan modal awal 750 ribu rupiah.
Pada tahun 2000, Susi membuat terobosan baru bidang
pengangkutan ikan, yaitu dengan pesawat terbang untuk mempercepat pengangkutan
ikan segar. Namun, ide ini pun tak langsung berjalan mulus pada awalnya.
"Saya dibilang gila oleh pihak bank, saat mengajukan
kredit beli pesawat untuk mengangkut ikan dan lobster dari Pangandaran ke
Jakarta" kekeh Susi. Namun berkat lobi intensif dan sifat tak mudah
menyerahnya, rencana ini gol meski butuh waktu hingga 4 tahun hingga disetujui
salah satu bank.
Tekad yang keras untuk menjadi pengusaha juga menghinggapi
benak Budiyanto Darmastono. Lulusan D3 Akuntansi UGM yang berasal dari keluarga
guru ini, tak puas bekerja sebagai pegawai bidang akuntansi, dengan penghasilan
yang menurutnya "hanya begitu-begitu saja".
Bersama istrinya, Budiyanto terus berpikir keras mencari-cari
bidang usaha yang cocok dan bisa dikerjakan berdua. Ide bernas pun mampir di
pikirannya saat menyadari, bahwa bisnis kurir sangat potensial. Perusahaan di
bidang usaha courier service juga masih sedikit dan sebagian besar dikerjakan
secara manual.
Bermodalkan uang 24 juta hasil meminjam saudara dan temannya,
Budiyanto menyewa sebuah rumah kontrakan untuk dijadikan kantor bernama PT.
NCS. Gagasan briliannya saat itu adalah mengandalkan 2 komputer untuk
mempercepat sistem database dan pelaporan. "Saat itu saya lihat dari
sejumlah perusahaan kurir, masih memakai sistem manual. Maka saya berpikir
bahwa sistem computerized pasti akan lebih cepat, tepat dan dipercaya
klien" ujar Budiyanto.
Saat ini, berkat kerja keras dan komitmen menjaga kepercayaan
para klien, PT. NCS telah memiliki 3000 karyawan yang tersebar di seluruh
Indonesia dengan omzet sekitar 9 miliar rupiah per bulan.
Sementara keputusan untuk tidak mengikuti jalur
"mainstream" sarjana saat ini, yaitu menjadi karyawan selulus kuliah,
mendorong empat sekawan dari Yogyakarta memilih berwiraswasta. Eko Yulianto,
Fath Aulia Muhammad, Asyari Tamimi dan Febri Triyanto tak malu-malu memulai
usaha berjualan stick singkong goreng. Bermodalkan sebuah gerobak berwarna
merah kuning bermerk Tela-tela, mereka berempat mampu menarik konsumen penyuka
cemilan gorengan.
Obsesi mereka mengangkat derajat singkong supaya
"selevel" dengan cemilan impor, juga didorong alasan untuk
memberdayakan para petani singkong. Pengalaman berlari-lari mendorong gerobak
sambil menenteng wajan berisi minyak goreng karena dikejar-kejar Satpol PP saat
pertama kali berjualan, tak mematahkan semangat mereka. Hanya dalam waktu 2
tahun, sekitar 1200 outlet Tela-tela di seluruh Indonesia, telah memberikan
omzet bagi 4 sekawan ini 2-3 Miliar per bulan.
Berawal pada hobi bermain skateboard, mendorong Rizky Yanuar
dan 2 temannya membuat sendiri kaos, jaket dan aksesoris bernuansa komunitas
skateboard pada 1998. Bermodalkan uang patungan sebesar 200 ribu rupiah, mereka
bertiga memproduksi sendiri jaket dan kaos bermotif skateboard.
Kegiatan yang awalnya hanya sebagai hobi itu, ternyata terus
berlanjut hingga mereka lulus kuliah. Promosi lewat mulut ke mulut kepada
sesama komunitas skateboard, berkembang ke jalur distro dan akhirnya memiliki
sebuah toko showroom khusus berbendera Ouval Research. Ketekunannya untuk
bertahan di segmen khusus anak muda, dibarengi inovasi dalam segi desain secara
terus menerus, membuahkan 4 outlet di Bandung dan Jakarta, serta 100
distributor di seluruh Indonesia yang mengalirkan omzet 1-2 miliar per bulan.
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar