|
|
Kami Ingin Bangkit |
Peristiwa luar biasa yang menimpa Aceh, tiga tahun lalu,
tidak mudah dilupakan. Terutama oleh anak-anak. Sejumlah anak bahkan mengalami
trauma hebat akibat tsunami waktu itu.
Kick Andy kali ini ke Aceh untuk mengangkat kisah anak-anak
korban tsunami dan korban konflik antara pasukan GAM dan TNI-Polri yang
berkepanjangan. Setelah tiga tahun terbenam dalam trauma yang luar biasa,
mereka kini mencoba bangkit.
Rahma Julia, misalnya. Remaja 16 tahun ini kehilangan ayah,
ibu, nenek, dan kakeknya saat tsunami melanda Aceh. Namun Rahma mengaku semua
kepahitan hidup itu sudah bisa diterimanya dengan lapang dada. Untuk mengurangi
beban jiwanya, dia menuliskan suara hatinya melalui puisi. Suatu hari kelak,
dia berniat membukukan kumpulan puisinya itu.
Sementara Izzatul Umi, 13 tahun, mengaku berusaha melupakan
pristiwa yang merengut ayah, ibu, dan dua kakaknya dengan tidak menangisi masa
lalu. Gadis remaja asal Bireuen ini bercita-cita menjadi dokter. “Agar saya
bisa menyelamatkan nyawa orang,” ujarnya.
Peristiwa masa lalu ternyata tidak membuat anak-anak korban
tsunami dan korban konflik ini selamanya terbenam dalam kubangan airmata.
Banyak di antara mereka yang kini mampu mengukir brbagai prestasi. Sebut saja
Rahmat Arief yang menjadi juara pertama lomba MTQ se-Aceh. Anak lelaki berusia
12 tahun ini juga juara menggambar tingkat provinsi. Selain itu, sejak kelas
satu sampai enam SD dia menjadi juara kelas.
Lahir dari keluarga anggota GAM membuat Syahrul Ramazi, kini
16 tahun, tidak bisa bersekolah secara normal. Bahkan pernah selama hampir dua
tahun, saat usianya baru 11 tahun, dia tidak sekolah karena ikut orangtuanya
masuk hutan.
Sedangkan nasib Ratna Dewi sebaliknya. Pada 9 September 2000
ayah, ibu, dan adiknya disandera GAM ketika dalam perjalanan darat menuju Pekan
Baru. Sejak saat itu Ratna tidak pernah lagi bertemu dengan orangtua dan
adiknya tercinta. “Sebenarnya aku masih memerlukan kasih sayang kedua orangtuaku.
Tapi semua lenyap begitu saja,” ujarnya.
Di Kick Andy, yang melakukan rekaman di Sekolah Sukma Bangsa,
Bireuen, seorang anak yang mengaku orangtuanya meninggal akibat konflik,
menunjukkan kebolehannya melawak. Muhammad Amin, 12 tahun, selama ini oleh teman-temannya
memang dikenal sebagai murid yang suka melawak. “Saya ingin membuat orang lain
senang,” ujarnya.
Sejumlah anak lainnya memberi kesaksian tentang masa lalu
mereka yang kelam. Namun mereka kini tampak optimistis menjalani kehidupan.
Setidaknya, itu terlihat dari wajah-wajah mereka yang ceria.
Di ujung acara, salah seorang anak, Rokin Lahan Taya, 15
tahun, melantunkan lagu ciptaannya di depan puluhan teman-teman sekolahnya.
Lagu yang menggambarkan kerinduan pada ibunya itu merupakan salah satu dari
sebelas lagu ciptaannya.
Keceriaan anak-anak itu semakin sempurna ketika Pendiri Last
Wish Foundation, Natalia, membagikan bingkisan untuk semua anak dan juga para
guru. Natalia sendiri pernah tampil menceritakan kisah hidupnya di Kick Andy.
Waktu itu dia baru saja kehilangan anaknya tercinta, Maria Monik, yang
meninggal oleh suatu penyakit. Sejak saat itu Natalia berjanji akan berusaha
membuat senang anak-anak yang sedang susah, terutama anak-anak yang sedang
menghadapi kematian oleh karena penyakit.
Anak-anak itu membutuhkan bantuan Anda. Yayasan Sukma Bangsa
membuka peluang bagi Anda yang ingin mengangkat mereka sebagai anak asuh.
Keterangan lebih lengkap bisa Anda dapatkan di www.sukmabangsa.sch.id.
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar