|
|
Kami juga Cinta Indonesia |
“Nama saya Mas Wahyu Soeparno Putro, tapi saya kok bule
ya?” Ujar Wahyu dengan aksen dan tingkah lakunya yang unik. Rambutnya yang
pirang, kulitnya yang putih, dan matanya yang kebiruan segera menjelaskan dia
memang bukan orang Indonesia .
Kehadiran Wahyu sebagai pembawa acara Berbagi Cerita di ANTV
memang segera merebut perhatian. Jenaka, cenderung ngawur, “cengengesan” dan
kadang naif. Tapi di situlah daya tarik Wahyu. Lebih penting lagi, kehadiran
pria yang fasih berbahasa Indonesia
dengan programnya itu membawa pemirsa berkunjung dari satu daerah ke daerah
lain untuk menikmati kekayaan alam dan budaya Indonesia .
“Saya senang sekali bisa menjadi pembawa acara ini. Sebab
saya bisa mengenal dari dekat keunikan masyarakat Indonesia
dan keindahan alamnya yang luar biasa,” ujar pria Australia bernama asli Dave Collin
Smith ini dengan mata berbinar-binar.
Bujangan berusia 44 tahun ini mengaku sudah yatim piatu sejak
berusia 20 tahun. Karena itu, dia merasa terharu dan sangat bahagia ketika
diangkat anak oleh keluarga Separno, mantan Satpam di perusahaannya dulu. “Nama
Wahyu beliau yang berikan. Saya tambahkan Soeparno Putro di belakangnya,” tutur
Wahyu. ‘’Karena saya sekarang anaknya Pak Soeparno.”
Adegan pertemuan antara Wahyu dan keluarga Soeparno yang
khusus didatangkan dari Yogyakarta menjadi
menarik. Apalagi sang ibu angkat membawa oleh-oleh ayam bakar kesukaan Wahyu.
Maka pengakuan sang ayah dan ibu angkat tentang Wahyu menjadi ajang
“ger-geran”.
“Bagaimana perasaan ibu melihat anak angkat ibu sudah jadi
orang terkenal?” Tanya Andy Noya. “Biasa saja,” ujar sang ibu yang disambut
tawa hadirin.
Di Kick Andy warganegara Australia
kelahiran Skotlandia ini juga bercerita tentang masa lalunya di Yogyakarta dan
kecintaannya pada Indonesia .
“Saya ingin sekali menjadi WNI,” ujarnya.
Wahyu hanyalah satu dari beberapa ekspatriat yang mencintai Indonesia dan ingin memberikan kontribusi bagi
masyarakat Indonesia .
Salah satu yang juga tampil di Kick Andy adalah Gaura Mancacaritadipura. Pria
yang juga asal Australia
ini tampil di Kick Andy mempertunjukkan kebolehannya sebagai dalang.
Dengan lincah Gaura mempermainkan wayang kulit di tangannya
diiringi perangkat musik gamelan serta lengkingan suara sinden. ‘’Kulit saya
memang putih. Tapi hati saya Indonesia. Saya menghormat merah putih,” ujar pria
yang resmi menjadi WNI sejak 2004 ini sembari memekik, “Merdeka!”.
Sementara itu Michi Tamioka, wanita asal Jepang, dengan luwes
– bak penari Keraton – mempertunjukkan kepiawaiannya menari Srimpi Bedoyo.
Gadis kelahiran 1966 ini mengaku sudah tertarik pada seni tari Solo sejak di
bangku kuliah di Osaka, pada 1980-an. “Pertama kali tahu tentang Indonesia dan
Solo waktu saya baca buku tentang negara-negara jajahan Jepang,” ujarnya.
Kemampuannya menari sudah teruji. Berbagai panggung dan
pertunjukkan sudah dijalaninya. Bahkan berkolaborasi dengan seniman-seniman
tari ternama Indonesia .
Bukan Cuma itu, Michi bahkan sudah menciptakan dua karya tari hasil kreasinya.
Tak heran jika gadis yang pernah belajar tari di Sekolah Tinggi Seni Indonesia
Surakarta ini bimbang ketika diajukan pertanyaan: “Apakah lebih suka tinggal di
Jepang atau di Indonesia ”.
Masih banyak orang-orang asing yang berkarya di Indonesia .
Sebut saja Karl Muller, warganegara Amerika yang menulis buku tentang aneka
hayati di Papua. Juga Lynn Claiton, wanita asal Inggris, yang giat menjaga
ekosistem di hutan Sulawesi Utara. Di Sumatera ada Ian Singleton asal Inggris
yang ikut menjaga populasi satwa di Sumatera serta Elizabeth
asal Prancis yang menerjemahkan Serat Centini dari bahasa Jawa ke Indonesia dan
kemudian ke bahasa Prancis.
Kisah yang diangkat Kick Andy kali ini memberikan rasa
kebanggaan kepada kita sebagai bangsa Indonesia . Setidaknya masih banyak
orang asing yang jatuh cinta pada negeri ini dan ingin berbakti di sini.
Tindakan yang semoga menginspirasi kita untuk juga menghargai dan mencintai
alam dan kebudayaan kita sendiri.
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar