|
|
Kisah Dibalik Panggung Sang Juara |
Kalau saja Eko Yuli Setiawan (18 tahun) tidak nekad
mengintip latihan angkat besi, nasibnya mungkin belum tentu berkilap seperti
sekarang ini, menjadi peraih emas SEA GAMES 2007 Thailand. Ketika itu, sekitar
tujuh tahun lalu, sekelompok orang yang tengah berlatih angkat besi menarik
perhatian Eko.
Meski kerap diusir, Eko tidak kapok untuk kembali dan kembali
lagi ke tempat tersebut. Kegigihan Eko ini akhirnya meluluhkan hati sang
pelatih. Eko pun esok harinya hanya dengan berbekal sepatu dan kaos
diperbolehkan berlatih angkat besi.
Pilihan Eko menggeluti olahraga ini ternyata tidak salah.
Dibawah bimbingan para pelatihnya seperti Yon Haryono dan Lukman, eko kecil
yang menghabiskan waktu luangnya sebagai penggembala kambing itu pun,
menunjukkan bakat yang luar biasa. Postur Eko yang tidak terlalu tinggi justru
menjadi kunci kesuksesan Eko sebagai seorang atlet angkat besi. Prestasi
nasional dan dunia pun satu per satu tertoreh atas namanya. Tentu saja
pencapaian ini, tak hanya memberikan kebanggaan bagi seorang Eko, tapi juga
bagi bangsa, negara serta kedua orangtua nya, Bapak Saman yang berprofesi
sebagai tukang becak dan Ibu Wastiah yang membuka warung kecil-kecilan. Hasil
dari kerja kerasnya, Eko mendapat bonus yang lumayan besar. Untuk apa bonus
itu? ”Saya ingin memberikannya kepada orangtua saya,” ujar Eko. Kedua orangtua
Eko yang juga hadir di studio tampak terharu.
SEA GAMES 2007 Thailand juga melahirkan sejarah baru baik
bagi dunia olahraga Asia Tenggara maupun Indonesia. Melalui aksi sprinter
berusia 24 tahun, Agung Suryo Wibowo, rekor bergengsi lari 100 meter putra pun
pecah dengan catatan fantastis 10,25 detik. Yang lebih membanggakan lagi, pria
yang kerap disapa Agung ini tak sekadar mentahbiskan dirinya sebagai yang
tercepat di Asia Tenggara, tapi juga menjadi penyumbang medali emas pertama
bagi kontingen Indonesia.
Tak cukup disitu, suami dari Astati Anjarwani ini kembali
mencengangkan publik Nakhon Ratchasima, dengan menjadi jawara di nomor 200
meter putra. Catatan waktu yang dibuatnya adalah 20,76 detik sekaligus
memecahkan rekor nasional yang selama 23 tahun dipegang sprinter legendaris
Purnomo.
Banyak keunikan dalam diri anak didik Nuraini Sumartoyo ini.
Jika melongok ke belakang, Agung tak pernah terbayang menjadi seorang sprinter.
Cita-citanya adalah menjadi pemain sepakbola. Namun lantaran patah hati dengan
sepakbola, Agung pun berpindah kelain hati yaitu atletik. Kebetulan,
kecepatannya saat melakukan latihan sprint menarik perhatian para pelatih kala
itu. Maka jadilah Agung kemudian mengukuhkan diri sebagai seorang sprinter
sejati. Tapi ada pemandangan aneh yang kerap dilihat penonton setiap kali Agung
memenangkan perlombaan. Setelah melintasi garis finish, secara reflek jempolnya
dimasukkan ke mulut, layaknya seorang bayi yang sedang menghisap jempol. ”Saya
memang mendedikasikan setiap kemenangan itu untuk putriku tercinta,” ujar ayah
dari Zalwa Zahra Wibowo yang kini berusia sembilan bulan. ”Sebab sejak didalam
kandungan, sampai dia lahir, saya tidak bisa mendampingi seperti layaknya
seorang ayah. Jadwal latihan untuk SEA Games begitu ketatnya.”
Di K!ck Andy episode Kisah Dibalik Panggung Sang Juara ini
juga mengulas seputar kesuksesan yang diraih oleh dua srikandi Indonesia.
Adalah Dedeh Erawati yang berhasil menyabet emas lewat nomor lari 100 meter
gawang putri. Patut dicontoh rasa pantang menyerah pelari berusia 28 tahun ini
untuk menjadi yang terbaik di lintasan. Betapa tidak. Selama tak kurang 15
tahun atau sekitar lima kali ajang SEA GAMES diikutinya. Namun, Dedeh tak jua
mendulang emas untuk nomor individual. Barulah di SEA GAMES 2007 ini, akhirnya
Dedeh pun berhasil mewujudkan obsesinya selama ini.
Lain lagi dengan Shenny Ratna Amelia (23 tahun). Atlet mungil
ini berhasil menyelamatkan wajah olahraga akuatik Indonesia dengan berhasil
menggondol emas satu-satunya melalui cabang loncat indah nomor 10 meter menara
individual putri. Bagi Shenny prestasinya itu tentu sangat membanggakan. Yang
menjadi pertanyaan, ada apa dengan olahraga akuatik Indonesia yang beberapa
tahun silam sempat berjaya di kawasan Asia Tenggara? Kondisi ini tentu menjadi
koreksi bagi pihak-pihak terkait, tak terkecuali pemerintah. Menteri Negara
Pemuda dan Olah Raga, Adhyaksa Dault mengungkapkan bahwa mencetak atlet memang
tak semudah membalikkan telapak tangan. Karena itu dibutuhkan pembinaan serta
apresiasi secara serius dari pemerintah kepada seluruh kalangan atlet.
Perhatian dan apresiasi tentu tak boleh tidak dirasakan pula
oleh para pelatih. Lewat tangan-tangan dingin merekalah lahir para juara yang
berhasil membela nama bangsa. Salah satu pelatih yang bersama anak didiknya
sukses menyumbangkan medali adalah, Zarmy Bachtiar. Awalnya, dengan alasan
tertentu cabang olahraga binaraga ini tak jadi dipertandingkan di ajang SEA
GAMES 2007. Namun lewat kegigihan Zarmy dan teman-teman melakukan lobi,
akhirnya cabang tersebut jadi juga dipertandingkan. Yang membanggakan seluruh
anak didik Zarmy sukses menyabet satu medali emas, satu medali perak dan dua
medali perunggu.
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar