|
|
Madu tak Selamanya Manis |
Mulanya semua begitu indah. Dua hati yang bertaut
membuat Yuni dan Larry Levesque sungguh ceria. Perbedaan suku bangsa bukan
masalah. Mereka membayangkan masa depan yang bahagia bersama Thomas, sang buah
hati hasil perkawinan mereka.
Namun apa mau dikata. Krisis ekonomi yang menghantam
Indonesia membuat Larry harus kehilangan pekerjaan. Perusahaan tempatnya
bekerja ditutup dan harus pindah lokasi ke negara lain. Kualifikasi gaji dan
posisi yang terlalu tinggi membuat pria asal Amerika ini tidak mudah mencari
pekerjaan pengganti. Menghadapi situasi ini, Larry frustasi. Dia mulai menjadi
pecandu alkohol. Pria yang ramah ini berubah pemarah.
Keaadaan terus memburuk. Tabungan menipis. Akhirnya mereka
sepakat berangkat ke Amerika, ikut program repatriasi. Tapi sayang, nama Yuni
tidak termasuk yang disetujui dalam program itu. 'Pihak Konjen AS bilang
program itu hanya untuk warganegara Amerika,' tutur Yuni. Maka Yuni terpaksa
tinggal dan berjanji akan menyusul.
Pada saat uang terkumpul, Yuni berangkat ke Amerika dengan
visa turis. pertemuan yang diharapkan indah itu ternyata menjadi awal
penderitaan Yuni. Selama di Amerika suaminya ternyata semakin parah tenggelam
dalam minuman keras. Larry yang kepergok sedang mabuk berat justru mengusir
Yuni. Bahkan Yuni juga tidak diperkenankan bertemu sang buah hati.
Ketika Yuni memaksa, Larry menelepon 911 bahkan kemudian
polisi. Yuni ditangkap, diborgol, lalu ditahan. Upaya untuk membawa serta
Thomas tidak berhasil. Bahkan Yuni terpaksa balik ke Indonesia tanpa si buah
hati.
Sejak itu, dengan segala cara, Yuni berjuang mendapatkan hak
perwalian atas Thomas. Apalagi ketika dia mendengar kabar anak semata wayangnya
itu sekarang diasuh oleh orangtua angkat atas keputusan pengadilan karena
menjadi korban kekerasan sang ayah. 'Dengan undang-undang Kewarganegaraan yang
baru saya berharap peluang mendapatkan Thomas jadi lebih besar,' ujar Yuni
penuh harap.
Cerita pedih semacam ini juga dialami Marcellina, yang sempat
masuk rumah sakit jiwa tiga kali akibat laporan sang suami. Setelah menikah
dengan Tom Mustric, warganegara Amerika, Marcellina baru menyadari pria yang
dikenalnya baik dan ramah itu ternyata punya kecenderungan melakukan kekerasan
dalam rumahtangga. Sejak itu ibu dua anak ini bagaikan hidup di neraka. Apalagi
harus menghadapi situasi itu seorang diri di negeri orang.
Hukum juga berpihak pada sang suami. Maka lengkaplah sudah
cerita kelabu perkawinan campur yang tadinya diharapkan menuju ke kebahagiaan.
Tom semakin sewenang-wenang. Marcellina kian menderita.
Pernah karena sudah tak tahan lagi, Marcellina bersembunyi
tiga bulan di rumah penampungan perempuan korban kekerasan dalam rumahtangga
sebelum berhasil lolos ke Indonesia. Sang mertua sempat mengajukan proses hukum
untuk merebut kedua cucunya dari tangan Marcellina. 'Tapi sekarang mereka sudah
bisa menerima anak-anak di bawah pengasuhan saya,' ujar wanita keturunan
Tionghoa ini.
Kisah Yuni dan Marcellina mengingatkan para wanita Indonesia
untuk berhati-hati ketika ingin menikah dengan pria asing. Sebab hukum
perwalian anak di negara asal sang suami kerap sangat melindungi
warganegaranya. Banyak wanita Indonesia yang harus kehilangan anak akibat
lemahnya dukungan hukum di Indonesia serta tiadanya perjanjian pra nikah yang
dibuat.
Sikap berhati-hati tentu perlu. Walau ada juga cerita Amalia
dan Wayne Lerrigo yang menikah puluhan tahun, sudah punya cucu, dan sampai
sekarang bahagia. 'Waktu itu kami memang tidak pakai perjanjian pra nikah,'
ujar Amalia. 'Saya sebenarnya tidak suka perjanjian pra nikah,' ujar Wayne,
yang warganegara Amerika itu. 'Saya lebih percaya pada cinta.'
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar