|
|
Masih Ada Hari Esok |
Lina Nur Farida, harus kehilangan rahimnya di usia ke-12
akibat kanker yang menyerangnya Mei tahun lalu. Sementara Ahmad Abiyu Sofyan, 7
tahun, harus rela kehilangan satu bola mata--termasuk kelopaknya—juga akibat
kanker.
Lina dan Ahmad Abiyu adalah bagian dari 150 penderita kanker
anak dan mantan penderita kanker yang kami temui khusus di Auditorium RS.
Kanker Dharmais, Jakarta. Satu kesempatan istimewa, dimana kita bisa melihat
dan mendengar berbagai kisah-kisah penuh ketegaran dari pasien dan keluarganya
dalam melawan kanker.
Kisah Lina , misalnya, dengan semangat ia mengubah masa-masa
sulit pasca kemoterapi, menjadi sesuatu yang menyenangkan. “Kalau merasa mual
setelah menjalani kemo, makan saja yang banyak, agar mualnya hilang,” katanya.
Dengan demikian ia mengaku, tetap bisa belajar dengan baik dan berprestasi di
kelas.
Lain lagi dengan Ahmad Abiyu, 11 tahun, penderita kanker mata
ini seakan tak pernah merasa memiliki kekurangan. Dengan kaca mata khususnya,
ia tetap menjalani berbagai aktivitas dari mulai sekolah umum, sekolah di
madrasah, berbagai les, dan menjalakan hobinya bermain sepak bola.
Abiyu memang layak menikmati hidupnya saat ini. Bayangkan,
tiga tahun lalu, Abiyu dan orang tuanya harus berjuang keras untuk bisa melawan
kanker mata. Setelah menghadapi rasa sakit dan masalah biaya yang berat. Pasca
operasi, keluarga nelayan asal Tangerang ini harus menggelandang di emperan
rumah sakit demi pengobatan lanjutan, yakni melakukan 25 kali penyinaran .
“Kalau cuma penyinaran, pasien tak bisa dirawat. Karena rumah kami jauh jadi
selama hampir dua bulan kami terpaksa tinggal di emperan rumah sakit,” kata
Nurasiah, Ibunda Abiyu.
Penyakit kanker memang tak hanya menguras fisik dan psikis
pasien, tapi juga keluarga, karena biaya pengobatan yang tak sedikit dan
lamanya waktu melakukan pengobatan.
Ibu Ningsih, salah satu nara sumber asal Palembang,
mengisahkan betapa kehidupan keluarganya menjadi berat saat Anggun Puji
Lestari, anak bungsunya menderita kanker tulang. Terlebih saat dokter
memutuskan untuk mengamputasi kaki Anggun, Oktober tahun lalu.
Sejak Agustus lalu, Anggun tak lagi bersekolah karena ayahnya
yang hanya pensiunan guru tak sanggup membiayainya lagi. Meski demikian, Anggun
tetap bersemangat menyambut hari esok. “ Saya ingin menjadi guru ngaji. Kan gak
sulit mengajar walau hanya dengan satu kaki” kata gadis yang bermimpi punya
kaki palsu ini.
Semangat yang sama dimiliki oleh Sapta, 13 tahun, penderita
kanker otak. Remaja asal Lampung ini selalu terlihat ceria, meskipun masih
harus menjalani belasan kali penyinaran serta serangkaian kemoterapi. Padahal,
Menurut Ruslim sang ayah, Sapta sempat tergolek 4 bulan, tak berdaya, akibat
kanker.
Hobinya pun sangat menggembirakan, yakni bernyanyi. Bahkan ia
mengaku memiliki grup band cilik bersama teman-temannya di Lampung dan
bercita-cita menjadi terkenal, seperti grup Kangen Band, yang dia sebut sebagai
band teman sekampungnya itu.
Saat Kick Andy menguji kemampuannya dalam bernyanyi, Sapta
mendapatkan kejutan yang tak ia duga. Kick Andy menghadirkan Kangen Band
untuknya.
Dalam episode special ini, Kick Andy memang memberikan
kejutan dan hadiah bagi nara sumbernya, termasuk audience anak-anak penderita
kanker. Beruntung, banyak pihak yang tergerak untuk ikut memberi hadiah dan
bantuan bagi mereka, termasuk sekelompok seniman cilik dari Global Art.
Siswa-siswi dari Global Art menyerahkan hasil lelang lukisan
mereka, senilai Rp. 35juta untuk membantu anak-anak kanker, yang disalurkan
lewat Yayasan Ongkologi Anak Indonesia (YOAI), sebuah yayasan yang peduli pada
anak-anak penderita kanker.
Secara spesial, Host Kick Andy, Andy F. Noya dan Illusionis
Demian datang mengunjungi dan menghibur pasien-pasien kanker anak di RS. Kanker
Dharmais dan RS. Cipto Mangunkusumo.
Ini lah episode ke-100 Kick Andy yang khusus mengangkat
kisah-kisah anak penderita kanker. Bagaimana mereka berjuang untuk tetap
semangat dan membangun keyakinan bahwa hari esok itu masih ada.
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar