|
|
Perempuan Perempuan Tulang Punggunng |
Bagaimana jika dalam sebuah keluarga, justru kaum
perempuan yang menjadi penopang utama ekonomi keluarga, tanpa menihilkan
perannya sebagai seorang ibu rumah tangga? Apakah konsep kesetaraan jender
serta dorongan kuat emansipasi kaum perempuan di segala bidang, memang semakin
melunturkan budaya atau kultur patriarkhi yang beredar di masyarakat saat ini?
Ponirah, Suyanti, Suwarni dan Onah
Lasmanah membuktikan bahwa konsep pembagian pekerjaan atas dasar jenis kelamin,
memang sudah tidak relevan lagi saat ini. Setidaknya bagi mereka berempat.
Bahwa pekerjaan atau profesi yang selalu identik dengan lahan kaum laki-laki,
tidak lagi tabu, sungkan, risi maupun malu mereka tekuni, demi hidup dan
kehidupan serta masa depan keluarga dan sesama. Pandangan miring dan cibiran
bernada sumbang dari sekitarnya, tak pernah mereka pedulikan.
Bagi Ponirah, atau akrab disapa Mbah Pon, himpitan kesulitan
ekonomi, di tengah tingginya hasrat untuk bisa menyekolahkan keenam anaknya,
tak lantas membuatnya putus harapan. Demi menambah penghasilan sang suami yang
hanya seorang pekerja serabutan sebagai tukang becak, petani penggarap dan
tukang batu, apapun akan dilakoninya. Akhirnya, saat menyadari bahwa keinginan
untuk berdagang terbentur modal, sementara yang dimilikinya hanya tenaga,
profesi tukang becak pun rela ditekuni selama 23 tahun, dari tahun 1985 hingga
sekarang! Bagi janda 58 tahun asal Bantul Yogyakarta ini, asal halal dan bisa
serta kuat dilakukannya, pekerjaan apapun tak ada masalah. Bahkan saking sudah
sangat menikmati pekerjaannya, saat ditanya apakah tidak malu atau risih,
dengan enteng dijawabnya "kan
hanya mbecak to, bukan nglakuin yang enggak-enggak untuk mendapakan uang".
Alhasil, berkat keteguhan hati dan otot bajanya, Mbah Pon mampu menuntaskan
keenam anaknya hinga semuanya tamat sekolah menengah atas, dan tetap setia
menarik becak hingga sekarang.
Sementara bagi Suyanti, keinginan untuk bisa menopang hidup
orang tua dan serta menyekolahkan anak-anaknya saat berpisah dengan suami
pertama, mendorongnya menjalani profesi yang sangat kuat tertanam di pandangan
masyarakat sebagai profesi kaum adam, yaitu sopir bus malam. Hingga saat ini,
bisa jadi Suyanti adalah satu-satunya sopir bus wanita antar kota antar provinsi dan juga antar pulau yang
tetap bertahan sejak tahun 1990! Bahkan di tengah gerogotan tumor rahim,
Suyanti tetap memaksakan diri untuk membawa bus Gajah Mungkur rute
Wonogiri-Jakarta pp setiap saat. Bahkan jalur lintas Sumatera pun pernah
ditaklukannya, saat mengantar penumpang busnya ke Pekanbaru, Riau.
Saat sang suami harus beristirahat total dari pekerjaan dan
sekaligus peran pencari nafkah utama keluarga karena terserang penyakit
hepatitis, Suwarni, ibu rumah tangga asal Mojokerto, Jawa Timur, mau tak mau
harus menggantikan tugas penopang ekonomi utama keluarga. Usaha tambal ban yang
sebelumnya dikerjakan sang suami, diambil alihnya untuk mendapatkan
penghasilan, menyekolahkan 3 anaknya dan juga membiayai pengobatan penyakit
sang suami. Pada saat bersamaan, Suwarni juga merangkap profesi sebagai tukang
ojek, pewarung kopi, serta menjadi seniwati ludruk, campursari dan wayang kulit
selama 15 tahun sejak 1993.
Sedangkan bagi Onah Lasmanah, kecintaan yang mendalam
terhadap lingkungan, membuatnya tak segan bergelut dengan cangkul dan sawah
ladang serta hutan sejak kecil. Berawal dari mewakili sang ayah pada pertemuan
kader petani, yang membuatnya terus setia pada pekerjaan petani. Keseharian
Onah dihabiskan untuk merawat dan mengurusi sawah, ladang serta hutan di
sekitar kampungnya di Cimaragas, Ciamis Jawa Barat. Selain menjadikan pertanian
sebagai sumber penghasilan, Onah juga sangat mencintai dunia pengobatan
tradisional. Pekarangan rumahnya sukses disulap menjadi wana farma, sebagai
laboratorium obat-obatan tradisional. Dari sekitar 300 jenis tanaman obat, Onah
telah menciptakan sekitar 150 obat-obatan herbal.
Kegigihannya dalam bidang pertanian dan obat-obatan
tradisional, telah mengantarkan Onah pada berbagai penghargaan, dari kelas
lokal hingga internasional. Sejumlah negara di Asia seperti Malaysia,
Singapura, Thailand hingga negara Jerman dan Belanda di daratan Eropa telah
telah didatanginya untuk memamerkan obat tradisionalnya. Prestasi tertinggi
yang diraihnya adalah penghargaan dari Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO)
di Bangkok Thailand tahun 2004 lalu. Hingga
saat ini, perempuan sederhana lulusan SMA ini, masih terus mencangkul di
pekarangannya di sela waktunya mengajar para mahasiswa pertanian di rumahnya.
Sementara saat ditanya harapannya pada kehidupan saat ini, dengan pasti dan
yakin Onah menjawab " Harmoni alam...".
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c
0 komentar :
Posting Komentar