|
Forget
The Troubles, Count The Blessings…
Semakin bertambah usia semakin kompleks
peristiwa/kejadian yang menghampiri kita. Seperti halnya masuk
kuliah, kerja, perubahan pola pertemanan dan terlebih lagi mencari
pasangan hidup. Peristiwa/kejadian yang kita alami tidak selalu
berjalan dengan mudah. Misalkan, orang tua yang cenderung ditaktor,
tugas kuliah yang menggunung, keuangan yang seret , temen yang
suka ngegosipin kita, adik yang suka mengganggu kita belajar
dan masih banyak lagi. Masalah tersebut kadang datang dengan
bertubi-tubi dan seakan-akan tidak memberikan kita kesempatan buat
istirahat sejenak.
Begitu kejatuhan masalah, sering kali kita merasa jadi orang paling
sial dan menderita sedunia. Padahal, yang bermasalah bukan cuma kita
sendiri. Tengok saja saudara kita yang masih pengangguran, teman kita
yang baru putus dengan pacarnya, sahabat kita yang nilai IPK-nya masih
1,00 dan masih banyak lagi. Kuncinya, jangan mendramatisir keadaan
kita, karena tidak akan menyelesaikan masalah.
• Beda Harapan & Kenyataan
Saat berhadapan dengan masalah atau hal yang berjalan nggak sesuai
rencana, kita cenderung panik dan nggak bisa berpikir jernih. Hasilnya,
kita merasa tertekan, reaksi ini terjadi karena ada kesenjangan antara
harapan, keinginan dan kenyataan yang kita miliki. Misalnya, ada
mahasiswa yang mempunyai target IPK-nya minimal 3,50, sedangkan hingga
semester terakhir IPS-nya masih 2,90. Dengan mempunyai target atau
harapan itu sangat penting untuk memotivasi diri sendiri dalam mencapai
targetnya tersebut. Namun ingat, target atau harapan harus disesuaikan
dengan kemampuan, jadi harus realistis.
• Beda Karakter, Beda Cara
Cara orang menghadapi masalah tidak sama, tergantung pada karakter
masing-masing orang. Karakter yang kita miliki ini dipengaruhi oleh
pola asuh dan lingkungan kita sejak kecil. Jika sejak kecil kita
terbiasa dilindungi orangtua dan kemauan kita selalu dituruti, maka
besar kemungkinan kita akan tumbuh menjadi seseorang yang rapuh dan
rentan. Dan sebaliknya, jika sejak kecil kita diajari selalu mandiri
dan terbiasa memecahkan masalah sendiri, kita berkembnag menjadi orang
yang lebih kuat dan ngga cengeng meski dalam keadaan tertekan. Nah,
sekarang kita harus melatih diri untuk menyelesaikan masalah kita
sendiri, jangan dibiarkan berlarut-larut atau melarikan diri. Ada
baiknya untuk pertama-tama bertanya atau meminta masukan pada
orang-orang terdekat, seperti sahabat, orangtua atau orang yang
berpengalaman.
• Siap Introspeksi
Coba kita instrospeksi diri, kita harus mengenal diri sendiri dulu.
Sempatkan diri dan luangkan waktu buat mengevaluasi dan merenungkan
kenapa kita mudah panik ketika dosen memberi tugas tambahan atau mudah
tersinggung dan menangis saat teman mengkritik kita. Padahal, kalau
dipikir-pikir lagi, masalah itu sederhana. Jangan terjebak dalam rasa
panik yang berlebihan, hal tersebut akan menghambat kita untuk berpikir
jernih dan sulit menemukan solusinya.
• Tetap Semangat
Kalau sudah mengenal diri kita, maka sekarang waktunya untuk
menyederhanakan pikiran kita. Perlahan-lahan, kurangi pikiran negatif
saat menghadapi masalah. Satu cara yang manjur biar kita tetep happy
saat berhadapan dengan masalah adalah menganggap kalau masalah memang
sudah menjadi bagian dari hidup, yang justru memperkaya pengalaman
kita. Kalau kita tidak pernah gagal, kita akan terus keenakan berada
dizona nyaman dan tidak ingin berusaha lebih maksimal lagi.
Asal kita sudah bisa menerima masalah sebagai bumbu hidup, kita
menjadi lebih santai. Jadikan masalah itu sebagai tantangan, bukan
penghalang.
• Gitu Aja, Kok Repot!
Hidup kita ngga akan hancur, biarpun tugas setumpuk gunung, kerja
bareng teman yang menyebalkan, tugas presentasi dihadapan puluhan
orang, pacar tidak disetujui orang tua, tunangan selingkuh dan masih
banyak lagi. Dalam kesulitan pasti ada kemudahan, setiap masalah pasti
ada penyelesaian dan hikmahnya. Tipsnya:
- • Tenang,
jangan terbakar emosi ketika menghadapi masalah. Kita harus bisa
mengendalikan diri. Usahakan kepala tetap dingin.
- • Jangan
sepenuhnya menyalahkan diri sendiri. Ada hal-hal yang bisa
kendalikan, tetapi banyak hal juga yang tidak bisa kita
kendalikan.
- • Fokus
pada penyelesaian masalah, jangan berkutat dengan saling
menyalahkan dan emosional.
- •
Merencanakan beberapa alternatif solusi, sehingga bila tidak
berhasil dengan yang satu masih ada solusi yang lain.
Source : CitaCinta (no.11/VII)
Edited by :
Ike Dwiastuti (ike_sac@its.ac.id)
Bagian Psikologi & Konseling
SAC-ITS
|
0 komentar :
Posting Komentar