|
Sajak Hitam dan Putih |
Surabaya, 2 Mei 2011
Sajak
Hitam dan Putih
oleh : Rangga Bisma Aditya
Hitam adalah buruk dan putih itu adalah
baik. Tapi itu hanya berlaku diatas kertas. Karena tinta-tinta hitam yang
mengotori sucinya kertas putih membuatku terbuka bahwa hidup ini adalah sebuah
coretan yang tak lebih buruknya dari baunya borok atau bahkan melebihi bau
wanginya bunga mawar yang mekar di tengah-tengah Taman Firdaus. Hari ini tepat
1000 kali saya mengikuti serangkaian aksi yang berjalan mulai 5 tahun yang
lalu. Dan tepat mulai hari ini saya akan menuliskan tinta hitam yang tak lebih
dari hiasan diatas buruk dan baiknya dunia ini.
Revolusi seakan menjadi satu barang mati
dalam ideologi. Kata-kata yang baru aku kenal 5 tahun lalu. Kata-kata yang
merasuk dalam tajamnya ingatan dan sanubari hidupku. Banyak orang meneriakkan
manisnya setiap kehidupan, menceritakan lezatnya sebuah kekuasaan atau bahkan
sebaliknya perihnya sebuah luka yang sangat akut dalam raga dan jiwa kita.
Bangunlah jiwanya bangunlah badannya,
kata-kata itulah yang harusnya membangkitkan sesaknya ribuan, juta’an, bahkan
milyaran tuntutan yang mengatas namakan keadilan. Tapi cukupkah engkau hanya
berteriak kawan.
Sedikit membuka memori pahitku terhadap
para penyakit yang ada di sekitarku, aku tak akan mempermasalahkannya kawan.
Karena para penyakit itu adalah keluargaku, bangsaku, rakyatku, sama seperti
aku. Tapi apa yang terjadi sekarang, balas budi seakan tak bisa bergulir lagi.
Jangankan pemberian 13 tahun yang lalu, pemberian 1 jam yang lalupun bahkan tak
mampu ia Balas, apa lagi 66 tahun yang lalu atau 45 tahun yang lalu dimana
banyak yang berkorban karena sesuatu yang kuanggap tak penting karena tak
ubahnya seperti sebuah mainan robot anak-anak yang baru berumur 3 tahun..
Saudara-saudaraku banyak yang berteriak,
tapi sekedar berteriak, karena mereka tak bisa selain berteriak. Jangankan
disuruh berteriak, untuk berteriakpun kadang mereka masih ragu. Ragu akan apa
yang mereka teriakkan. Revolusi, Reformasi atau bahkan Gerakan-gerakan sentilan
publik tak akan membuat kita bangga. Karena diatas kebanggaan masih ada
keadilan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan atau bahkan konsepsi tak
penting ketuhanan.
Sejarah tinggal kenangan, pilihannya
hanya pada kau! Mau diam, mau berteriak, mau berfikir atau malah mau bergumam
tentang dzikir. Silahkan itu hak kamu. Tapi perlu kamu camkan kawan, karena aku
tak hanya diam, tak hanya mengamati, dan yang jelas aku adalah bagian dari
sejarah itu, sejarah Kelamnya bangsa dan sejarah manisnya Negara.
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c

0 komentar :
Posting Komentar