|
Sikap Kritis, Peka, dan Peduli mahasiswa: Jiwa, Pikiran dan Tindakan |
Sikap Kritis, Peka, dan Peduli mahasiswa:
Jiwa, Pikiran dan Tindakan
Oleh:
Panca
Dias Purnomo[1]
Mahasiswa
takut pada Dosen…
Dosen
takut pada Dekan…
Dekan
takut pada Rektor…
Rektor
takut pada Menteri…
Mentri
Takut pada Presiden…
Presiden
Takut pada Mahasiswa…
(Taufik
Ismail, 1998)
Penggalan
puisi diatas adalah karya seorang sastrawan ternama Indonesia yang mengandung
makna mendalam dari sejarah panjang perjuangan mahasiswa dalam progesivitas
perbaikan bangsa ini. Puisi itu merupakan rekam sejarah heroisme mahasiswa
Indonesia yang tiada pernah henti memperjuangankan takdir negaranya dengan
senantiasa mengawal dan mengevaluasi jalannya pemerintahan. Mahasiswa adalah bagian
dari pemuda yang mempunyai andil besar dalam sejarah dinamika perkembangan
bangsa ini. Mahasiswa adalah pemuda yang mempunyai peran sebagai agent of change, social control,
iron stock, dan the guardian value dalam ranah berbangsa dan bernegara.
Sebagai manusia yang lebih tercerahkan (enlightenment people)
dibandingkan kelompok masyarakat lainnya, mahasiswa seharusnya mempunyai kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi di sekelilingnya.
Penumbuhan sikap peka dan peduli mahasiswa terhadap kondisi di sekitarnya harus
disuburkan sejak dini, karena mahasiswa egois-lah yang hanya mementingkan diri
sendiri, sedangkan realitas mayoritas masyarakat bangsa ini masih tertindas
oleh ketidakadilan dan kebodohan. Apapun minat, keahlian, dan kemampuan
mahasiswa, mahasiswa harus mempunyai kesadaran untuk terus menggali informasi,
ilmu pengetahuan dan membekali diri dengan kapasitas keilmuan yang tinggi,
sehingga mampu memberikan kontribusi nyata terhadap kemajuan bangsa dan
masyarakatnya. Itulah jiwa, pikiran dan tindakan seorang mahasiswa, yaitu
kritis, peka, peduli, dan haus akan informasi dan pengetahuan.
Mengapa Mahasiswa?
Mengapa
mahasiswa harus mempunyai sikap kritis, peka, peduli, dan haus akan informasi
dan pengetahuan? Jawaban dari pertanyaan ini merupakan jiwa atau ruh yang harus
disadari dan dimiliki oleh setiap mahasiswa dalam setiap aktivitas yang
dilakukan serta sebagai dorongan dan motivasi untuk terus memberikan
kontribusi untuk kejayaan bangsa dan negara.
Pertama, mahasiswa sebagai bagian dari pemuda mempunyai
peran dan fungsi yang sangat mulia dalam tataran berbangsa, bernegara, dan
bermasyarakat. Sejarah telah membuktikan bahwa mahasiswa berperan besar dalam
membangkitkan semangat kemajuan di bangsa ini. Peran dan fungsi tersebut antara
lain: mahasiswa adalah “iron stocks” atau
gudang calon pemimpin bangsa di masa depan. Mereka ditempa dan dididik di
perguruan tinggi untuk menjadi seorang calon pemimpin bangsa yang memang
nantinya layak mengisi pos – pos tertentu baik sektor pemerintah maupun swasta.
Karena itu, calon pemimpin bangsa tidak hanya sekedar membekali diri dengan
kecerdasan pikiran melainkan dengan kecerdasan spiritual agar menjadi pemimpin
yang kuat menahan godaan dunia dan jernih dalam berpikir dan bertindak.
Mahasiswa adalah “social control”, yaitu pengontrol sekaligus
pengevaluasi kebijakan – kebijakan pemerintah yang dianggap tidak berpihak pada
rakyat (sosial). Selain itu, mahasiswa adalah “the guardian values” atau penjaga nilai – nilai. Mahasiswa
sebagai kaum intelektual harus mampu mentransfer pemikirannya kepada masyarakat
melalui teladan dan karya nyata untuk menjaga nilai – nilai kebaikan dalam
masyarakat.
Mahasiswa
sering juga disebut “agent of changes” atau kaum intelektual. Seseorang
yang memiliki kemampuan dan ketrampilan tertentu, mempunyai persepsi holistic. Artinya mereka mampu
melihat, menafsirkan, dan menyimpulkan gejala sosial secara utuh menyeluruh dan
saling berhubungan satu dengan yang lainnya. Mereka mampu berpikir kritis,
kreatif, spekulatif, deduktif, dialektik, dan mereka selalu berpikir kearah
perubahan.[2]
Kedua, mahasiswa adalah bagian terbesar dari
civitas akademika perguruan tinggi, dimana setiap perguruan tinggi di Indonesia
mempunyai tri dharma perguruan tinggi sebagai dasar perguruan tinggi begerak
yaitu pendidikan, penelitian,
dan pengabdian masyarakat. Ketiga nilai tersebut juga harus menjadi ruh
atau jiwa setiap mahasiswa dalam melakukan setiap aktivitasnya, yaitu mahasiswa
harus mempunyai kemampuan mendidik, meneliti, serta mengabdikan diri kepada
masyarakat. Begitulah lingkaran peran mahasiswa yang sesungguhnya. Mahasiswa
yang hanya mementingkan nilai dan kuliah dikelas tanpa peduli kepada kondisi
masyarakat, maka ia belum layak disebut mahasiswa sejati. Mahasiswa yang hanya
pandai beretorika di organisasi mahasiswa kampus tanpa pernah menggunakan
retorika dan kemampuannya dalam fungsi pengabdian masyarakat, maka sebenarnya
mahasiswa itu hanya layak disebut mahasiswa bermulut besar.
Oleh
karena itu, berdasar ketiga
nilai tri dharma perguruan tinggi tersebut, mahasiswa harus mempunyai sikap
kritis terhadap kondisi sekitarnya, peka, peduli, dan haus akan ilmu
pengetahuan dan informasi untuk kemudian memberikan apa yang mahasiswa kuasai
kepada masyarakat. Ilmu dan
hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa jika tidak pernah ditransfer
kepada masyakarat hanya akan bernilai nol (0). Pengabdian kepada masyarakat
beranegaka ragam bentuknya, misalnya aksi turun kejalan, bakti sosial, pasar
murah, pengobatan gratis, pelatihan dan pembinaan di desa – desa, dll.
Ketiga,
Dari jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 237 juta, 11,01 juta jiwa (BPS)
adalah mereka yang berhasil kuliah sampai perguruan tinggi. Jumlah itu hanya
sekitar 4,65% dari total populasi penduduk Indonesia. Jumlah yang kecil
dibandingkan dengan negara lainnya. Melihat betapa masih kecilnya jumlah
mahasiswa di Indonesia, apakah pernah terbersit dalam pikiran kita bahwa kita
ini adalah orang yang sangat beruntung? Beruntung karena ternyata tidak banyak
pemuda di negara ini yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi. Kenapa?karena
pendidikan tinggi masih terlampau mahal bagi mayoritas masyarakat Indonesia.
Beruntung sekali kita bukan? Fakta lainnya adalah perguruan tinggi negeri di
Indonesia masih mendapatkan dana subsidi dari pemerintah untuk kegiatan
operasionalnya. Dana subsidi dari mana? Dana subsidi dari pajak yang dibayarkan
oleh seluruh rakyat Indonesia di seluruh pelosok tanah air. Oleh karena itu,
kita sebagai segelintir orang yang berhasil mengenyam pendidikan tinggi dan
mendapatkan santunan dari pajak yang dibayar oleh seluruh rakyat Indonesia,
Akankah masih saja memikirkan kepentingan diri sendiri?TIDAK. Ini adalah
konsekuensi dan tanggung jawab moril yang kita emban, untuk membalas budi baik
seluruh rakyat Indonesia dengan kepekaan, kepeduliaan, dan keinginan menggali
sedalam-dalamnya ilmu pengetahuan dan teknologi demi kesejahteraan seluruh
rakyat Indonesia.
Sejarah
telah membutkikan bahwa mahasiswa selalu berada dalam garda terdepan kemajuan
dan perubahan sebuah bangsa, “Sejarah telah membuktikan bahwa perubahan tradisi berpikir
suatu bangsa seringkali diubah secara mendasar oleh para mahasiswa. Seperti
perubahan tradisi berpikir masyarakat Perancis yang mengalami perubahan sangat
fundamental setelah ada revolusi mahasiswa pada 1968”
(Zanuba Wahid-Membangun (Kembali) Kesadaran Kritis Mahasiswa-2008).
Pada
hakikatnya mahasiswa adalah fase dimana manusia berada pada masa kalkulatif
(tercerahkan) oleh ilmu pengetahuan yang diperolehnya. Sudah sepantasnya
orientasi pergerakan mahasiswa dan organisasai mahasiswa adalah untuk
menumbuhkan kemampuan intelektualitas. Kemampuan yang bukan hanya memfokuskan
pada kekuatan tetapi juga daya kritis untuk merespon isu-isu kekinian.
Disinilah mahasiswa harus mampu menampilkan fakta-fakta terkait problematika
masyarakat yang sesungguhnya. Disinilah mahasiswa
dituntut dengan kemampuan intelektualitasnya, untuk mampu mencari solusi
sekaligus memecahkan akar permasalahan tersebut[3].
Ini
lah jiwa, ruh, dan semangat yang harus disadari dan dimiliki oleh setiap
mahasiswa bahwa setiap aktivitas yang dilakukannya akan selalu mempunyai
hubungan dengan bangsa, negara dan masyarakat. Karena itu, jiwa dan
pikiran serta tindakan mahasiswa adalah kritis, peka, peduli, dan haus
pengetahuan.
Peran Organisasi Mahasiswa
Sikap
kritis, peka, peduli, dan keinginan untuk menggali ilmu pengetahuan serta berkontribusi
untuk masyarakat selama ini sering muncul dan tersemai subur dari keberadaan
organisasi mahasiswa baik intra maupun ektra kampus. Sejarah dan fakta kekinian
juga membuktikan bahwa merekalah yang aktif di organisasi mahasiswa yang dengan
sadar dan lantang memberikan pembelaan, kritik, masukan, serta aksi nyata untuk
memperbaiki kondisi masyarakat di negara ini, dengan berbagai cara yang mereka
bisa dan kuasai.
Organisasi
mahasiswa mempunyai peran dan fungsi yang sangat vital dalam menumbuhkan dan
menyemaikan nilai – nilai esensi dan perjuangan mahasiswa. Selain itu,
mahasiswa adalah wadah yang sangat efektif untuk menumbuhkembangkan kemampuan
mahasiswa terutama soft-skill dan life-skill.Organisasi
mahasiswa adalah tempat untuk mengembangkan Emotional Quotient (EQ) dan
Spiritual Quotient (SQ).
Organisasi
mahasiswa tidak hanya sekedar event organizer yang hanya mengadakan event
parsial dan sporadis semata, seperti seminar, pelatihan, dan kuliah umum.
Organisasi mahasiswa lebih dari sekedar hubungan formal dan komunikasi publik.
Organisasi mahasiswa adalah lembaga kaderisasi dan lembaga pengembangan diri.
Organisasi mahasiswa adalah tempat bersemainya budaya intelektualitas
mahasiswa, tempat dimana mahasiswa berlatih menjadi seorang intelektual muda sejati
dan sebagai agen penumbuh 3
pilar budaya seorang intelektual yaitu membaca, menulis, dan diskusi.
Organisasi
mahasiswa membutuhkan hubungan personal dan emosi yang sejalan. Jika organisasi
ingin dijadikan keluarga, lalu keluarga yang seperti apa? Perlu adanya
kepedulian yang bersifat personal di dalam keluarga. Tentunya asas perbedaan
akan mewarnai dalam suatu keluarga. Perbedaan itu yang dapat menjadi stimulus
bagi kita untuk menjadi dewasa, sikap saling menerima dan saling melengkapi[4].
Organisasi mahasiswa berisikan oleh mahasiswa dengan berbagai macam cara
pandang sehingga selalu memunculkan dinamika, karenannya organiasasi mahasiswa
adalah sarana menuju kedewasaan personal dan juga spritiual.
Berdasarkan
hal tersebut maka organsiasi mahasiswa dituntut untuk terus meningkatan
kualiatas dirinya dan peningkatan pelayanan terhadap masyarakat mahasiswa.
Sebagai miniatur pemerintahan negara dalam penyelenggaraan negara yang
semestinya dilakukan oleh aparatur negara. Maka, organisasi mahasiwa harus
meng-adopsi prinsip-prinsip pemerintahan layaknya dalam sebuah negara dan
dikolaborasikan dengan prinsip sebagai organisasi pengkaderan dan perjuangan. Dengan demikian, satu media yang dapat
membentuk kematangan mahasiswa dalam hidup bermasyarakat ialah organisasi.
Dengan senantiasa ber-organisasi maka mahasiswa akan senantiasa terus
berinteraksi dan beraktualisasi, sehingga menjadi pribadi yang kreatif serta
dinamis dan lebih bijaksana dalam persoalan yang mereka hadapi[5].
Ada
beberapa salah persepsi dan penyempitan makna jika berbicara mengenai
organisasi mahasiswa maupun aktivis mahasiswa. Sering kali banyak salah
pemahaman tentang makna, peran dan fungsi organisasi mahasiswa. Banyak orang
yang salah mempersepsikan bahwa organisasi mahasiswa hanya berkutat dengan
dunia sosial-politik dan pekerjaan utamanya adalah demo atau aksi turun ke
jalan. Tidak semua organisasi mahasiswa selalu berorientasi politik. Organisasi
mahasiswa mempunyai peran dan fungsinya menurut tujuan organisasi mahasiswa
tersebut dibentuk, misalnya organisasi mahasiswa di bidang minat bakat,
kesenian, budaya, sosial, sosial-politik, riset, dan kewirausahaan. Selain itu,
aktivis mahasiswa seringnya dialamatkan kepada mereka yang aktif di organisasi
mahasiswa yang berbau sosial-politik, seperti BEM dan SENAT. Padahal, semua
pengurus organisasi mahasiswa, apapun organisasinya, adalah aktivis mahasiswa.
Karena aktivis mahasiswa, adalah mereka yang aktif dan memberikan timbal balik
manfaat kepada organisasi dan almamaternya. Pada
intinya, semua organisasi mahasiswa (apapun tujuan organisasinya) adalah sarana
yang efektif untuk belajar menjadi dewasa, belajar mengembangkan soft-skill,
life-skill, EQ dan SQ yang nantinya akan bermanfaat saat masuk ke dunia
masyarakat yang sesungguhnya. Apapun organisasi dan tujuannya, yang terpenting
adalah bagaimana organisasi itu bisa menumbuhkan nilai, sikap, dan
karakter kritis, peka, peduli, dan haus ilmu pengetahuan serta peningkatan
kapasitas diri kepada seluruh anggotanya sehingga dapat dihasilkan mahasiswa
yang sesungguhnya.
Sikap Kritis
Sikap
kritis sering disalahpahami sebagai sikap negatif karena sering dianggap atau
dipersepsikan sebagai sikap menentang dan melawan. Sikap kritis juga dianggap
sebagai sikap ketidakpercayaan kepada orang lain. Sikap kritis juga hanya
seringnya dihubungkan dengan demonstrasi mahasiswa atau aksi masa yang berujung
bentrokan dan kerusuhan masa. Seringkali kesempitan pemaknaan ini terjadi di
kalangan masyarakat kita, bahkan masih banyak mahasiswa yang berpikir seperti
itu. Apakah sikap kritis
adalah hanya yang demikian?
Telah
banyak teori dan penjelasan mengenai sikap kritis. Beberapa diantaranya adalah
sebagai berikut: 1) sikap kritis dimaknai sebagai kemampuan berpikir objektif.
Mahasiswa dapat melihat sisi poitif dan negatif suatu masalah secara seimbang,
sebelum akhirnya membuat keputusan. Mahasiswa selalu bisa mempertimbangkan
segala sesuatunya secara bijaksana, proporsional atau seimbang tanpa dibumbui
rasa emosi yang berlebihan. 2) Sikap kritis adalah menyampaikan sesuatu sesuai
dengan kondiri riil sesuai dengan realita. 3) Kritis juga berarti bisa
mengevaluasi apa yang ditangkap dengan apa yang disampaikan sehingga menemukan
kejelasan. Misalnya, dalam diskusi mahasiswa senantiasa meluaskan materi atau
menghubungkan dengan beberapa informasi, fakta, ide sehingga akan diperoleh
kejelasan yang lebih holistik. Sedangkan, mengkritik berarti menanggapi dengan
perspektif tertentu, diikuti pernyataan solutif sebagai masukan atas kekurangan
yang ada. Tanggapan tanpa saran konstruktif bagai teori yang tak didukung dalil
ilmiah yang valid5.
Pada
intinya, sikap kritis adalah bagaimana melihat sesuatu hal dengan cara yang
lebih objektif dan seimbang, mencari kaitannya dengan kondisi, informasi, atau
fakta lain sehingga diperoleh kondisi yang lebih holistik atau menyeluruh.
Kondisi ini akan menghasilkan sikap yang tidak serta merta menerima apa yang
terjadi kepada masyarakat atau kondisi di sekitarnya. Sikap kritis disini adalah
bertujuan untuk menumbuhkan sikap peka, peduli, dan motivasi atau semangat
untuk terus menggali informasi dan pengetahuan sedalam – dalamnya agar diperoleh
mahasiswa yang berintelektualitas tinggi, tidak hanya bermanfaat untuk dirinya
sendiri dan kampus, melainkan untuk masyarakat, bangsa, dan negaranya.
Sikap
kritis tidak selalu hanya ditunjukan dengan aksi dan demontrasi turun ke jalan
memprotes kebijakan pemerintah, meskipun itu adalah salah satu bentuk dari
sikap kritis, peka dan peduli terhadap kondisi masyarakat. Seperti yang telah
dijelaskan diawal tulisan ini, bahwa menunjukan sikap kritis, peka, dan peduli
serta kehausan menggali ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan, misalnya,
diskusi, menulis di media massa, bakti sosial, dan sarana lain yang dapat
mengundang kesadaran publik terhadap sesuatu. Misalnya, sekelompok mahasiswa
aktivis lingkungan yang tergabung dalam organisasi lingkungan, ingin mengkritik
pemerintah sekaligus menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya sumber
daya air di Kota Semarang, melakukan aksi membagikan botol minuman kepada
masyarakat, aksi damai di Tugu Muda Semarang, dan melakukan press release di media massa kota, serta melakukan
kampanye di kampus – kampus. Itulah beberapa contoh aksi nyata dari sikap
kritis, peka, dan peduli terhadap kondisi di sekitar mahasiswa.
Mahasiswa
adalah kaum intelektual, mampu berpikir secara mendalam dan tajam dalam
menyikapi sesuatu masalah serta bersikap bijaksana dan dewasa yang pada
muaranya adalah untuk kemajuan institusi, masyarakat, bangsa dan negara.
Menumbuhkan Sikap Kritis dan
Haus Pengetahuan Serta Informasi
Kesadaran kritis yang melampaui tabir asap itu
sesungguhnya bisa dibangun dengan tradisi
berpikir relasional (melihat
suatu masalah atau fakta tidak semata-mata dari substansinya, tetapi dalam
relasinya dengan masalah dan fakta lain) dan “outward
looking” (melihat masalah
atau fakta di dalam negeri dalam perspektif geo-politik, geo-ekonomi dan
geo-kultural dalam konteks hubungan internasional, khususnya hubungan antara
negara Dunia Pertama dan Ketiga)[6].
Sikap
kritis akan berkorelasi dengan tingkat intelektualitas mahasiswa. Hal ini lah
yang akan membedakan mahasiswa yang berkualitas dengan yang kurang berkualitas.
Menumbuhkan sikap kritis melalui peningkatan intelektualitas mahasiswa tersebut
dilakukan dengan menumbuhkan budayamembaca, menulis, dan diskusi dikalangan mahasiswa sehingga akan
tercipta amosfer kampus yang dinamis dan solutif yang mampu menciptakan
mahasiswa dengan kapasitas kelimuaan dan intelektualitas tingkat tinggi. Tentunya hal tersebut perlu adanya
sinergisitas dan kerja bersama antara birokrat kampus, dosen, dan organisasi
mahasiswa.
Berikut
adalah beberapa hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan sikap kritis,
kepekaan, kepeduliaan terhadap kondisi sekitar, dan keinginan untuk terus berkembang
antara lain:
1.
Sering
terlibat dalam lingkungan yang dinamis
2.
Perluas
wawasan
3.
Cari
tahu dan ambil kesempatan
4.
Komitmen
dan teguh
5.
Berusaha
optimal
6.
Terus
besemangat dalam belajar dan berlatih
7.
Berani
mencoba dan berani gagal
8.
Nikmatilah
9.
Selalu
berusaha dekat dengan Yang Maha Kuasa
10.
Mulai lah dari hal yang kecil
Sedangkan,
berikut ini adalah hal – hal yang sering menyebabkan seseorang enggan bersikap
kritis, peka, dan peduli, diantaranya:
1.
Fanatisme
2.
Kurangnya
Pemahaman Pada Suatu Kasus
3.
Merasa
Paling Pintar
4.
Bersikap
Subjektif
5.
Sempitnya
Wawasan dan Perspektif
6.
Zona
Nyaman
Kritis yang Etis, Analitis
dan Solutif
Banyak
pendapat yang sering mengatakan bahwa dalam menyampaikan pendapatnya, mahasiswa
cenderung emosional dan kurang menampilkan argumentasi-argumentasi rasional.
Padahal, keterlibatan aktif mahasiswa dengan kondisi masyarakat memerlukan
dasar-dasar logis agar dapat difahami dan diterapkan anggota masyarakat
khususnya masyarakat kecil dan miskin[7].
Pendapat
tersebut barangkali yang sekarang ini mulai dipercayai oleh sebagian masyarakat
Indonesia, bahwa mahasiswa Indonesia hanya bisa berteriak – teriak di pinggir
jalan, meneriakan keadilan tanpa memahami betul permasalahan apa yang
sebenarnya mereka sedang perjuangkan. Hal ini juga yang membuat mindset
masyarakat kepada aksi dan demonstrasi mahasiswa cenderung negatif karena
berujung pada anarkisme dan kerusuhan.
Mahasiswa
sebagai kaum intelektual dalam menunjukan sikap kritis, peka, dan pedulinya
harus juga dilakukan dengan cara – cara yang intelek, elegan, dan bijaksana.
Karena itu, dalam mengeluarkan sikap kritisnya mahasiswa harus berpedoman atau
memegang teguh prinsip etis
(sesuai norma), analitis (mengadakan analisa sehingga mempunyai data kuat
mengenai sesuatu masalah), dan solutif (mempunyai solusi terhadap masalah yang
sedang diangkat). “Pribadi
berilmu nan santun jauh lebih terhormat daripada memiliki sejuta ilmu tanpa
akhlak mulia”[8].
Sesungguh
sikap dan karakter seperti itulah yang bisa disebut sebagai mahasiswa sejati: sang intelektual, sang perubahan.
Semangat Berprestasi dan
Berkontribusi (tindakan)
Motivasi
atau semangat berprestasi merupakan faktor primer seseorang agar berhasil
mencapai sesuatu. Hal ini didasarkan atas kesadaran pribadi yang akan
menggerakan seseorang untuk melakukan tindakan. Mahasiswa dapat meraih prestasi
tinggi jika ia mempunyai kesadaran tinggi yang dapat mendorong dirinya sendiri
untuk meraih apa yang ia telah rencanakan. Kesadaran mencapai sesuatu dapat
dicapai jika mahasiswa mampu memahami makna atau esensi keberadaannya di kampus
dan kehidupan ini. Persepsi ini dapat dicapai mahasiswa dengan menyerap dan
mengolah informasi dari lingkungannya (baca: kampus). Persepsi positif terhadap
kampus dapat menumbuhkan semangat berprestasi. Mahasiswa yang mempunyai
persepsi positif terhadap kampusnya mempunyai motivasi berprestasi yang jauh
lebih besar kepada kampusnya untuk mengharumkan almamaternya.
Semangat
berprestasi jika tidak diimbangi dengan semangat berkontribusi kepada
almamater, masyarakat, dan bangsanya maka hanya akan menghasilkan mahasiswa –
mahasiswa yang egois, egois dengan prestasi personalnya masing – masing.
Karenanya, sikap kritis, peduli, dan peka terhadap kondisi di sekitar kita
harus kemudian membawa penumbuhan motivasi beprestasi dan sekaligus
berkontribusi utuk kejayaan dan kemajuan almamater, masyarakat, bangsa, dan
negara. Semangat berkontribusi untuk membangun kejayaan almamater tercinta.
Karena sejatinya, kampus, masyarakat dan negara ini tidak akan pernah menjadi
apa – apa tanpa peran dari setiap kita yang kita berikan, sesuai dengan
kemampuan, keahlian, dan kapasitas kita.
The
worth of a state, in the long run is the worth of individuals composing it (John Stuart Mill).
Jika kita ingin membangun sebuah negara yang besar dan berharga, maka negara
itu harus berisikan oleh orang-orang besar dan berharga yang menyusun negara itu.
Demikian pula dengan organisasi atau pun almamater dimana kita berada, setiap
kita harus menjadi individu yang berkualitas dan berharga agar organisasi dan
almamater yang kita cintai ini menjadi berkualitas dan berharga kelak. Setiap
individu didalam almamater kita sangat menentukan seberapa berkualitas
almamater kita.
Pada
akhrinya, semua landasan berpikir dan bersikap mengenai sikap kritis, peka, dan
peduli tidak akan pernah ada artinya jika itu hanya ada didalam kata – kata
atau hanya tulisan belaka tanpa ada tindakan yang nyata untuk mewujudkannya.
Jiwa dan pikiran yang sudah tersemai dalam diri harus diwujudkan dalam aksi
nyata, sikap kritis yang
membawa pada aksi praktis.
Kita
belajar, berkontribusi karena kita cinta UNDIP …….
UNDIP
JAYA!!!
HIDUP
MAHASISWA!!!
Download file dalam bentuk
pdf. disini
[1] Ketua BEM FPIK UNDIP 2010; Komisi Ahli
Internal BEM KM UNDIP 2011, E-mail: panca.purnomo@gmail.com; Blog: http://www.pancagarden.blogspot.com
[2] Agus Dairo Beke. 2008. Pengaruh motivasi
beprestasi mahasiswa, persepsi kompetensi dosen, dan sikap mahasiswa terhadap
hasil belajar mata kuliah manajemen sumber daya mausia. Jurnal Bina Widya,
volume 19, No. 3
[3] Bulletin al-Inqilaby. Mahasiswa Kini dan
Nanti, http://www.dakwahmedia.com/suara-mahasiswa/mahasiswa-kini-dan-nanti.html
[4] Ridwan Wicaksono. 2011. Kesadaran
Terhadap Esensi Organisasi Mahasiswa, http://www.okezone.com
[5] Zaldy Munir. 2010. Peran dan Fungsi
Organisasi Mahasiswa, http://zaldym.wordpress.com/
[6] Zannuba Arifah Chafsoh Wahid. 2008.
Membangun (Kembali) Kesadaran Kritis Mahasiswa, http://www.zannubawahid.com/
[7] http://www.republika.co.id/9611/16/16KRITIS.111.html
[8] Ahmad Asrof Fitri. 2011. Nalar Kritis
Mahasiswa, http://m.suaramerdeka.com
Panca Dias Purnomo Labels: Kampus
Semua itu tergantung Pilihan¹Dan Niat Masing Masing»¥c

0 komentar :
Posting Komentar